Lelaki baik untuk perempuan baik

Allah S.W.T berfirman, “Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.” (an-Nur':26)

Itulah janji Allah S.W.T buat semua manusia. Seandainya kita menginginkan isteri atau suami yang baik, kita haruslah terlebih dahulu menjadi seorang yang baik. Tak mungkin seorang yang baik akan mendapatkan wanita yang tidak baik atau sebaliknya. Seandainya anda masih meragui kalimah ilahi, kalimah siapakah lagi yang tinggal untuk anda ikuti?

Seorang sahabat saya kemudiannya memberi komentar mengenai ayat ini, “Kalau macam tu, tak nak lah kahwin dulu. Saya nak memperbaiki diri sampai layak mendapat isteri yang lebih baik.” Astaghfirullahal'adzim, bertapa buruknya pandangan seperti ini.

Pertama, membersihkan serta memperbaiki diri dan iman tidak boleh dicampurkan dengan niat kerana selain Allah SWT. Itu namanya syirik. Bagaimana seorang boleh mengatakan ingin memperbaiki diri untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik sedang diwaktu dia menyatakan perkara tersebut dia sedang menduakan Tuhan. Pembersihan dan pembaikan yang cuba dilakukan malah boleh bertukar menjadi pengotoran dan perosakan diri.

Kedua, Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang hamba menikah, maka telah sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah pada setengah yang lain.”1 Jika menikah itu menyempurnakan setengah dari agama, apakah sarana pembersihan dan pembaikan diri yang lebih utama berbandingnya? Seorang yang belum nikah bererti belum sampai separuh pun keimanan yang ada di dalam dirinya.

Ketiga, perkataan “lebih” itu membawa maksud perbandingan antara dua. Bagaimana untuk mengukur “lebih” andai tiada yang pertama.

Keempat kalaupun dia dapat mengetahui “lebih baik” itu, seandainya dia mendapat seorang yang tidak sebaik dirinya, bagaimana? Sedangkan dia telah meletakkan kriteria sendiri mengenai yang “lebih baik”. Sedangkan Allah SWT maha tahu. Mungkin sahaja kita cuma nampak baik, atau merasakan diri baik, atau nama lainnya perasan!

Allah S.W.T dengan kehebatannya dalam mencipta dan menjadikan alam semesta telah menetapkan suatu sistem yang sangat sempurna iaitu islam. Lantas Allah S.W.T menyuruh hamba-hambanya agar taat dan patuh terhadap agama ini dan masuk ke dalamnya dengan seluruh hati dan jiwa.

1Hadith riwayat al-Hakim dan ath-Thabrani dari Anas bin Malik. Imam al-Bani menghasankannya.




[+/-] Selengkapnya...

Asal ada abang...

Hmmm… kupandangi Al Quran bersampul kuning keemasan itu.
Warnanya tak pudar walaupun telah sepuluh tahun ia tinggal di rak
buku ruang tamuku. Lembarannya tak cacat sedikitpun walau sering
kubaca. Dan satu kali dalam satu tahun aku memandangi takjub maharku
itu seperti ini...

Suamiku baru saja pulang kerja. Dia tampak lelah. Kusiapkan air
hangat untuknya sore ini. Makanan dan minuman kesukaannya telah
kuhidangkan di meja makan lebih awal. Sprei tempat tidur telah
kuganti. Kordin telah kucuci dan kupasang lagi. Seluruh bagian rumah
telah kubersihkan.

”Kok senyum aja sih dari tadi?” suamiku menegurku. Aku hanya bisa
tertawa kecil. ”Nggak pa pa. Pingin sedekah aja. He he...”

Suamiku membalas seyumanku dan pergi mandi.

Saat ditutup, kuamati pintu kamar mandi itu... dan sekeliling rumah
ini. Rumah kontrakan penuh kenangan. Sebentar lagi rumah ini akan
menjadi milik kami karena pemilik sebenarnya akan pindah ke luar kota
dan menjualnya pada kami. Suamiku pun bekerja lembur akhir-akhir ini
untuk melunasinya.

Malam ini aku dan suamiku menikmati makan malam sebelum isya.
Kebetulan anak-anak sedang liburan di rumah neneknya. Rumah jadi
terasa sepi.

Terdengar suara motor berderu melewati rumah kami sekali waktu.
Terdengar pula suara televisi tetangga sebelah rumah dan sesekali
tawa mereka.

Dari seberang meja makan kupandangi suamiku itu. Baju koko telah
dipakainya. Dia telah siap untuk berangkat ke masjid. Wajahnya tak
berubah, masih seperti itu... kalem. Hanya jenggotnya saja yang kian
lebat. Hmmm... dia masih dengan pendiriannya. Subhanallah...

Pulang suamiku dari masjid, aku baru saja selesai mencuci piring.

”Abang baru inget. Sepuluh tahun lalu abang nikahin kamu ya, dek?
Pantes dari tadi seyum aja. Ngerayain yang kayak gitu2 nggak level
kan, dek?! Nah, mendingan pijetin abang nih, abang capek banget hari
ini.”

Ha ha ha... masih. Dari dulu emang manja bapak ini.

Tapi tidak saat dia datang ke rumahku sepuluh tahun lalu. Aku hanya
bisa mendengar percakapan hangat itu dari balik pintu kamarku. Ayahku
meragukannya. Yaaah, aku rasa adalah hal yang wajar bila setiap orang
tua ingin anaknya hidup berkecukupan. Dan yaaah, memang untuk hidup
di jaman sekarang, pekerjaan suamiku yang tidak tetap mungkin tidak
bisa mencukupi hidup kami nanti. Maklumlah, baru lulus kuliah. Tapi
suamiku percaya, insya Allah, Allah akan memudahkannya.

Sempat kututup telingaku saat suara ayahku mendominasi percakapan
hari itu.

Aku hampir saja menangis. Aku tak mau ta’arufku sia-sia. Dan untuk
tidak menjadi isteri seorang yang shalih seperti dia adalah suatu
kerugian bagiku. Namun tak lama ibuku datang ke kamarku dengan
terseyum dan menanyakan jawabanku. Rupanya aku menutup telingaku
terlalu lama hingga aku tak menyadari bahwa saat itu suamiku tengah
memberi pengertian pada ayahku dan akhirnya meyakinkan beliau.

Seminggu pertama aku dan suamiku tinggal di rumah orang tuaku. Karena
rumah yang dikontrak suamiku baru bisa dipergunakan setelah seminggu
itu, ya rumah ini. Selama seminggu itu dia sibuk sekali. Entah apa
saja yang dikerjakannya. Dan setelah minggu itu berlalu, ada rasa
khawatir di wajahnya saat ia mengatakan padaku, ”Dek, di rumah itu...
nggak ada apa-apanya.”

Ia menatapku sendu.

Sebenarnya aku dan suamiku berasal dari keluarga yang cukup berada.
Hanya saja mungkin itu masalah harga diri bagi kaum lelaki, aku juga
tidak begitu mengerti.

Di tengah kekhawatirannya itu ku katakan padanya, ”Abang... asalkan
ada ember biar adek bisa nyuciin baju abang, asal ada paku dan tali
biar adek bisa ngejemur, asal ada api biar adek bisa masak buat
abang, asal ada alas buat kita tidur, asal ada kain buat nutup
jendela, asal ada sapu biar rumah kita tetap bersih, asal cukup air,
asal bisa beli bayam dan tempe, dan selang sehari kita shaum... insya
Allah, itu bukan masalah bagi adek.”

Ia tersenyum, masih dengan tatapan yang sendu itu. Hhh... aku jadi
sedih. Sejak ta’aruf dulu, dia telah mengatakan segala kemungkinan
hidup kita nanti. Dan aku telah menyatakan kesiapanku... insya Allah,
aku sanggup menghadapi apapun... bersamanya...

Esok harinya kamipun pindah. Selama seminggu itu aku memang tak
diizinkannya untuk melihat kontrakan itu. Dan saat aku sampai di
sana... Subhanallah, ruang tamu mungil dengan perabotan terbuat dari
rotan yang cukup untuk diduduki empat orang saja. Rak buku yang biasa
kulihat di rumahku menjadi penghalang ruang tamu dengan ruang makan.
Rak buku itu memang dibuatkan khusus oleh ayahku untukku. Beliau tahu
hobiku membaca buku. Wah, pantas saja aku tak melihat rak itu di
rumah akhir-akhir ini.

Aku melihat-lihat seluruh rumah itu. Ruang makan yang sederhana hanya
tersedia dua bangku di situ dengan meja kecil yang cukup untuk makan
kita berdua saja. Di kamar tidur ternyata telah ada sebuah tempat
tidur, lemari baju dan meja hias. Di sebelah kamar itu ada ruang
kosong, untuk kamar anak-anak kelak. Di dapur telah ada peralatan
masak hadiah dari ibuku dan ibu mertuaku. Di bagian belakang rumah
itu ada kamar mandi. Di luarnya telah ada sapu ijuk dan sapu lidi
plus tempat sampah. Di tempat mencuci telah ada ember dan gayung.

Semua jendela telah berkordin.

Belum sempat aku mengomentari rumah itu, suamiku berkata, ”Dek, abang
lupa beli tali sama paku buat jemuran.”

Hi hi hi. Aku tertawa cekikikan. ”Adek kira rumahnya bener-bener
kosong nggak ada apa-apanya.”

”Yaaah... maksud abang gak ada apa-apanya dibandingin rumah adek.”

Hi hi hi... abang.

Dulu yang kupinta pada Allah adalah hanya seorang suami seperti
abang, yang sholih, yang mau usaha, yang optimis, tawakal. Jadi di
manapun kita tinggal, seperti apapun keadaanya, sekurang apapun
fasilitasnya, asalkan
ada abang... hidupku udah lengkap.

diambil dari http://www.eramuslim.com

[+/-] Selengkapnya...

Mencari sang bidadari

Satu hari, saya menyampaikan tazkirah di surau selepas solat maghrib. Saya menyebut mengenai menjauhkan diri dari zina. Maka saya pun membacakan ayat Allah S.W.T yang berbunyi

“Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu merupakan suatu yang keji dan seburuk-buruk jalan.”1 dan ayat, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).2


Kemudian saya lanjuti penerangan mengenai kedua ayat tersebut dengan suatu hadith nabi SAW, “Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah S.A.W bersabda : Telah tercatat pada anak adam bahagiannya dari zina, yang pasti terkena, zina mata ialah melihat, dan telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berkata, dan tangan zinanya menyentuh, dan kaki zinanya berjalan, dan hati zinanya ialah menginginkan, dan yang membenarkan semua itu adalah kemaluan, terjadi atau tidaknya.”3

Ayat dan hadith di atas menerangkan mengenai larangan Allah SWT kepada manusia mengenai mendekati zina. Di antara perbuatan mendekati zina adalah melihat kepada wanita bukan mahram tanpa keperluan sedangkan Allah berfirman, “Dan katakanlah pada orang mukmin agar menundukkan pandangan mereka(dari memandang wanita yang bukan mahram)....”4

Sesudah habis tazkirah yang diberi, seorang lantas bertanya: “ Macam mana nak mencari calon isteri kalau macam tu?”. Saya cuma tersenyum, “Alhamdulillah saya sendiri sudah melaksanakannya”5. Saya ajak dia berbual-bual sebentar dan kemudiannya kami makan bersama-sama. Kami berbual panjang, topiknya adalah mengenai mencari calon isteri secara syar'ie. Dia adalah seorang yang ingin mengikut syariat islam akan tetapi tak mengetahui apakah landasan syariat itu sendiri.

Sebahagian besar dari bab ini adalah apa yang kami perbincangkan. Persoalan mencari sang bidadari dunia yang ingin kita sunting menjadi isteri ini bukanlah suatu perbincangan remeh yang boleh dibuat main-main sahaja. Meremehkan proses ini akan membawa kepada kerosakan di dalam masyarakat. Budaya couple yang ditempek dengan istilah couple islami adalah suatu pencemaran terhadap keindahan islam.

Saya amat tertarik dengan istilah yang sering digunakan oleh seorang ustaz yang saya kenali. Dia berkata, “Seandainya ada seekor babi yang dijaga dengan rapi sejak dari kecil sehingga besar. Babi itu diazankan dan diiqamatkan setiap kali masuk waktu solat. Babi itu kemudiannya disembelih dengan menyebut nama Allah, walaupun saya tak tahulah bagaimana penyembelihan itu boleh dilakukan sebab babi tak ada leher. Lalu babi itu digelar dengan gelaran babi islami, apakah babi itu kemudiannya menjadi halal?”

“Sekarang kita lihat ramai orang meletakkan imbuhan islami pada banyak perkara. Dengan tujuan menjadikan menghalalkan yang haram. Couple yang asalnya haram, kini diletakkan gelaran islami, apakah dengan gelaran islaminya itu menjadikannya halal? Letaklah apa pun nama, yang haram tetap haram dan yang halal tetap halal,” katanya lagi. Kata-kata ustaz itu cukup saya ingati sehingga kini.

Mengapa saya letakkan mencari bidadari sejati sebagai tajuk bab ini? Seorang isteri yang sejati bukan sahaja akan menjadi teman hidupmu di dunia, malah di akhirat nanti, dia bahkan lebih tinggi martabatnya berbanding seorang bidadari. Seorang isteri yang beriman lebih cantik, lebih menyenangkan hati, lebih baik jauh melebihi sang bidadari. Mencari seorang isteri yang akan menemani hidup kita sehingga ke akhirat nanti adalah bagai mencari sang bidadari.

Dia sendiri adalah ketua bidadari di syurga bahkan dialah yang banyak membantu kita memasuki syurga. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Jika seorang hamba Allah menikah, maka telah sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah pada setengah yang lain.”6


Suatu hari Ummu Salamah bertanya kepada nabi, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari bermata jeli.” (At-Thur :20).

Baginda menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bagaikan sayap burung nasar.”

Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, 'Laksana mutiara yang tersimpan baik'.”

(al-Waqi'ah: 23)

Baginda menjawab, “Kejernihannya sepertimana kejernihan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia”

Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, 'Di dalam syurga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik'.” (al-Rahman:70)

Baginda menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya jelita.”

Saya bertanya lagi, “Jelaskan kepadaku firman Allah, “Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (As-Saffat:49)

Baginda menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bahagian dalam telur dan dilindungi oleh kulit telur di bahagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

Saya berkata lagi, “Wahai rasulullah, jelaskan padaku firman Allah, “penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (al-Waqiah :37)

Baginda menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tua, lalu dia menjadikan mereka sebagai gadis-gadis yang penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, yang manakah lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Rasulullah menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang nampak daripada apa yang tidak nampak.”

Saya bertanya, “kerana apa wanita dunia lebih utama?”

Baginda menjawab, “Kerana solat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya dibuat dari emas. Mereka berkata, “kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemad lembut dan tidak jahat sama sekali, kami redha dan tidak pernah bersungut-sungut. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah bernikah dengan dua, tiga, empat lelaki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk syurga dan mereka pun masuk syurga pula. Siapakah di antara lelaki itu yang akan menjadi suaminya di syurga?”

Baginda menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu diapun memilih siapa diantara mereka yang akhlaknya paling bagus. Lalu dia berkata, “wahai tuhanku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya.” Wahai ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”7

Mengapakah bagi seorang bidadari sekalipun Allah tekankan sifat dirinya yang terjaga, akhlaknya yang baik, lembut dan terpelihara?. Kerana, manusia mana pun sangat mendambakan seorang teman yang bukan cuma cantik, namun punyai budi pekerti yang baik, menjaga kehormatan dirinya dan mentaati perintahnya sehingga Allah berfirman,

“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (ar-Rahman :74)

Biar bidadari sekalipun yang tugasnya nanti menjadi pelayan kita semata-mata turut mempunyai ciri-ciri kesucian dan kemuliaan. Demikianlah yang diingini oleh seorang lelaki dalam mencari pasangan sejati. Bukanlah nilai seorang wanita ataupun lelaki itu hanya terletak pada paras rupa, jauh sekali cuma harta yang dimilikinya, akan tetapi pasangan hidup yang sejati itu adalah sebagaimana disebut oleh Rasulullah s.a.w dalam sebuah hadith:

“(Sebaik-baik isteri adalah) yang membahagiakan suaminya jika ia memandangnya, yang sentiasa mentaati suaminya jika ia memerintahnya, dan yang tidak bermaksiat terhadap suaminya atas dirinnya dan hartanya dengan sesuatu yang dibenci suaminya”8


dan sebuah hadith lain yang berbunyi:

“Mukmin yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada isteri-isterinya.9

Seorang yang dapat isteri yang secantik mana sekalipun akan berasa bosan dengan isterinya tatkala akhlak dan peribadi isterinya rosak. Tepuk dada tanya hati, apakah anda sanggup menghabiskan seluruh kehidupanmu bersama seorang pasangan yang buruk akhlaknya?

117:32

224:26

3Riwayat Bukhari dan Muslim

424:30

5Kalaupun bukan sebegitu tepat perbualan kami, maksudnya tidak jauh berbeza dari kejadian sebenar. Peristiwa itu telah berlaku beberapa bulan yang lalu, saya tidak dapat mengingati setiap patah kata yang diucapkan oleh kami berdua.

6Hadith riwayat al-Hakim dan ath-Thabrani dari Anas bin Malik. Imam al-Bani menghasankannya.

7Hadith riwayat Thabrani, Sulaiman bin Abu karamah menyendiri dalam hadith ini. Abu Hatim menganggapnya dha'if.

8Hadith riwayat an-Nasa'i

9Hadith riwayat at-Tirmidzi

[+/-] Selengkapnya...

Persediaan Vs Kemampuan

Kurangnya persediaan untuk bernikah bukanlah penghalang untuk bertindak berusaha menuju ke arah gerbang pernikahan. Seperti yang saya sebutkan di awal bab ini, seandainya kita menanti persediaan yang sempurna sebelum melaksanakan pernikahan maka, kita tak akan menikah selama-lamanya. Perlunya segala persiapan yang saya sebutkan sebentar tadi adalah sebagai pelengkap dalam sebuah pernikahan. Seharusnya kita kembali kepada kayu ukur yang telah di tetapkan oleh Rasulullah SAW dalam menghitung kemampuan.


Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Wahai golongan pemuda! Sesiapa di antara kamu yang telah mempunyai keupayaan untuk berkahwin, maka hendaklah dia berkahwin. Sesungguhnya perkahwinan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Maka sesiapa yang tidak berkemampuan, hendaklah dia berpuasa kerana puasa itu dapat mengawal iaitu benteng nafsu.”

Kemampuan untuk berkahwin itu disebut ba'ah di dalam Bahasa Arab. Ulama' berselisih pendapat mengenai ba'ah ini akan tetapi mereka menyepakati suatu hal, makna ba'ah yang utama adalah kemampuan seksualnya. Mengenai pendapat tambahan pula, Imam Asy-Syaukani berpendapat mahar dan nafkah, sedang sebahagian ulama' lain menyatakan penyediaan tempat tinggal. Tetapi yang ditekankan oleh ulama' adalah maknanya yang utama iaitu kemampuan seksual.

Jadi seandainya anda mempunyai kemampuan untuk melakukan hubungan suami isteri, mampu memberi nafkah dan membayar mahar, mampu menyediakan tempat tinggal bagi isteri maka tiada seorang ulama' pun yang berselisih pendapat mengatakan anda sudah mampu mendirikan rumah tangga. Seandainya anda belum mampu dari segi ekonomi sekalipun, ada janji Allah yang Allah akan membantumu dalam urusan itu.

“Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” (an-Nisa':32)

Persediaan harus terus dilakukan sebaik mungkin, itulah yang akan menghiasi rumah tangga anda. Sekadar mana yang perlu disiapkan tergantung pada kemampuan dan keadaan diri anda sendiri. Semakin banyak yang anda usahakan semakin banyak hasilnya yang anda akan kutip.

Dan barangsiapa yang berjihad (buat segala sesuatu secara bersungguh-sungguh), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (al-Ankabut:6)

Maka aku (Nabi Nuh) mengatakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh:10-12)

1. Hadith riwayat Bukhari dan Muslim

[+/-] Selengkapnya...

Mempersiapkan fizikal

Persediaan dari segi fizikal lebih kepada merawati segala penyakit yang anda hidapi. Merawat penyakit pada awalnya adalah lebih mudah berbanding tatkala ianya sudah merebak. Apatah lagi seandainya penyakit itu terkait rapat dengan kemampuan untuk melakukan hubungan suami isteri. Persediaan dari segi fizikal juga bererti anda harus menjaga kebiasaan diri agar sentiasa mencegah penyakit sebelum dihidapi. Termasuklah di sini memerhatikan kebersihan, makanan, minuman, melakukan senaman dan sebagainya. Mencegah itu lebih baik dari mengubati.

[+/-] Selengkapnya...

Mempersiapkan pengurusan diri

Persiapan dari segi kemampuan untuk mengurus diri dengan baik, mengurus perjalanan sesuatu urusan, mengurus krisis yang timbul dan sebagainya. Asas kepada pengurusan adalah berfikir, mengatur dan berdisiplin dalam perlaksanaan rancangan. Disiplin dalam melaksanakan apa yang dirancang inilah yang akan menjadikan sesuatu perancangan berjaya atau tidak. Bagaimana hebat pun suatu perancangan andai tidak dapat mendisiplinkan diri dalam melaksanakan perancangan, maka perancangan itu sia-sia.



Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr:18)




Memerhatikan apa yang perlu dilakukan pada esok hari adalah suruhan Tuhan. Merancang dengan baik dan melaksanakan perancangan adalah bukti keimanan. Steven Covey dalam bukunya 7 habit of highly effective people, meletakkan satu habit, begin with end in mind, mulakan sesuatu dengan hujungnya di dalam fikiran. Buat sesuatu perkara dengan mengetahui apakah hasil yang anda ingini. Sifat ini akan menjadikan anda bertindak lebih tepat, menjauhkan diri dari sifat malas dan membantu anda menyusun waktu untuk melaksanakan sesuatu. Hikmah itu kan milik orang mukmin, ambillah ia di mana sahaja kamu temuinya.1



1Perkataan ini dikatakan sebuah hadith, namun saya tidak menemui riwayatnya.

[+/-] Selengkapnya...

Mempersiapkan Ilmu

Ilmu



Ilmu adalah persediaan yang umum. Semua orang tahu akan kepentingan ilmu di dalam kehidupan seorang mukmin mahupun bukan. Bahkan menuntut ilmu itu harus dilakukan sejak dari berada di dalam buaian sehinggalah ke liang lahad1. Menuntut ilmu di sini saya maksudkan secara luas.

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya”2

Barangsiapa meniti jalan menuntut ilmu, Allah akan mempermudahkan jalannya menuju syurga.”3

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (16.78)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (al-Isra':36)

Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”4

Bagaimanapun seorang yang ingin berkahwin perlulah menumpukan kepada beberapa bidang ilmu dalam mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tanggungjawab rumahtangga yang bakal dipikulnya. Di antara ilmu-ilmu yang khusus perlu disiapkannya adalah ilmu fikah asas untuk suami isteri seperti hukum-hakam dalam hubungan suami isteri, hukum darah wanita, tanggungjawab seorang suami, tanggungjawab seorang isteri dan sebagainya. Selain itu bakal pengantin perlu menyiapkan ilmu mengurus rumah tangga, ilmu dalam mencari nafkah, dan sebagainya.

1Hadis menuntut ilmu

2Hadis riwayat Bukhari

3Hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah

4Hadis ini diriwayatkan oleh sejumlah di kalangan sahabat dengan sanad yang lemah, tetapi al-Hafiz as-Suyuti mengatakannya sebagai hadith sahih kerana diriwayatkan melalui lebih 50 jalur. Al-Bani juga mengatakan demikian.

[+/-] Selengkapnya...

Emosi

Saudara saudari sekalian, emosi merupakan suatu perkara yang sangat penting dan perlu diperhatikan. Cuba kita lihat berapa ramai orang yang masuk penjara disebabkan emosi yang tak terkawal. Berapa banyak kejadian tak diingini berlaku disebabkan emosi yang tidak stabil. Berapa ramai kawan-kawan kita yang lari disebabkan emosi.



Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda “jangan marah” apabila seorang lelaki datang kepadanya dan meminta Rasulullah memberikan kepadanya wasiat. Wasiat adalah suatu yang paling penting yang ingin disampaikan kepada seseorang yang sesudahnya kita sudah tiada apa lagi yang ingin disampaikan.
“Daripada Abu Hurairah ra, seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW, “Berikan daku wasiat.” Baginda bersabda, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulangi soalan itu beberapa kali. Baginda tetap bersabda: Janganlah engkau marah.”1


Allah SWT juga menyebut salah satu daripada sifat seorang yang bertakwa itu adalah orang yang menahan marahnya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Iaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang mahupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran:133-134)



Belajarlah untuk mengawal emosi mu sebelum memasuki gerbang perkahwinan. Rasulullah SAW tidak pernah menengking, memukul mahupun berlaku kasar terhadap isteri-isteri baginda. “Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah memukul isterinya, dan tidak pernah memukul isterinya. Beliau tidak pernah mengotori tangannya dengan pukulan, kecuali dalam peperangan di jalan Allah, atau kerana larangan-larangan Allah dilanggar, maka beliau menghukum kerana Allah.”2



1Hadis riwayat al-Bukhari.

2Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, an-Nasai', ad-Darimi dan Ibnu Majah

[+/-] Selengkapnya...

Mempersiapkan mental

Persediaan mental adalah lebih kepada, menyiapkan mental kita, merubah persepsi kita yang kebudak-budakan kepada seorang dewasa yang bersedia menanggung segala akibat perbuatannya sendiri. Daripada mengharap kepada orang lain kepada berdikari sendiri dan mencari jalan keluar daripada segala permasalahan yang dihadapi. Bahkan Rasulullah SAW sangat tidak menggalakkan sikap meminta-minta daripada orang lain.



Seorang yang bergelar suami sudah memikul tanggungjawab untuk mencari dan memberi nafkah kepada keluarganya. Dia harus mampu berdikari dan mencari jalan keluar daripada setiap masalah yang dihadapi oleh keluarganya lantaran jawatannya sebagai suami. Silap lah bagi mereka yang menyangka perkahwinan ini adalah cuma mainan sahaja, perkahwinan adalah perkara serius. Melangkah masuk ke gerbang perkahwinan perlulah dengan kesungguhan dan kesedaran terhadap segala tanggungjawab yang bakal dipikulnya nanti.




Sebab itu saya nyatakan bahawa mencari keseriusan di dalam hidup juga merupakan suatu faedah dan tujuan daripada pernikahan. Telah kita bincangkan mengenai tanggungjawab suami dalam menanggung isterinya dalam persediaan kewangan tadi Jadilah kamu seorang yang lebih serius dalam kehidupanmu dan kurangkan lah keseriusan mu dalam bergaul sesama manusia. Kerana Rasulullah SAW pernah bersabda, “Mengapa tidak memilih gadis, yang dia dapat bermain denganmu, dan engkau dapat bermain dengannya, engkau menggigit nya dan dia menggigit mu?”1



Persiapan dari segi menerima kelemahan dan kekurangan pasangan juga perlu bagi mereka yang mendekati proses perkahwinan. Setiap manusia itu mempunyai kelemahan dan kekurangan mereka tersendiri. Bahkan dalam melalui fasa-fasa pertama bersama seorang asing yang baru melangkah masuk ke dalam kehidupan kita, tentu saja banyak perbezaan dan perbezaan pendapat mahupun cara hidup. Lantas, seorang yang ingin berkahwin haruslah menyiapkan mental mereka untuk menerima segala perbezaan dan mencari jalan tengah ataupun bertolak ansur dalam perkahwinan. Allah SWT cakap :

Dan bergaul lah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) kerana mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa' : 19)



Cuma perlu di ingat bahawa menerima segala kelemahan dan kekurangan bukanlah bermaksud tidak berusaha untuk saling memperbaiki antara satu sama lain. Lantaran setiap manusia itu mempunyai kelemahan dan kekurangan lah maka sebuah rumah tangga itu berjalan dengan cukup harmoni di mana fungsi suami dan isteri sebagai pelindung antara satu sama lain, saling nasihat-menasihati, ingat memperingati, tegur menegur dan sebagainya. Maka akan timbullah kasih sayang sejati di dalam rumah tangga di mana pasangan hidup adalah pelengkap bagi dirinya.

1Riwayat an-Nasai' - Shahih

[+/-] Selengkapnya...

Mempersiapkan agama

Persediaan kedua adalah persediaan mengenai agama kita. Mengapa saya letakkannya di tempat yang kedua adalah kerana kita sedang membicarakan mengenai persediaan bagi seorang pemuda. Lantas, permasalahan yang paling besar timbul dari permasalahan kewangan.



Akan tetapi sebenarnya, Allah SWT telah meletakkan kriteria agama sebagai kriteria pertama yang harus kita perhatikan pada diri kita mahupun calon pasangan kita. Seorang hamba perempuan yang hitam legam dan hodoh wajahnya adalah jauh lebih baik berbanding seorang kafir mahupun fasik(banyak melakukan dosa) atau munafik(berpura-pura islam).




Ini dapat saya rasai sendiri. Walaupun isteri saya sederhana sahaja rupanya, akan tetapi akhlaknya dan kesungguhannya dalam beragama lah yang menjadi kriteria saya memilihnya. Bahkan, pada ketika pertama kali saya melihatnya di dalam proses perkenalan untuk berkahwin, saya terus-terang katakan yang saya tidak tertarik langsung terhadap wajahnya. Akan tetapi hikmah yang Allah tetapkan di dalam penerimaan atas kriteria agama itu cukup besar. Semakin lama berlalu dia bertambah cantik dalam pandangan, bahkan sehingga saya sudah tidak merasakan tertarik kepada mana-mana wanita lain lagi. Kini dialah yang tercantik pada pandanganku. Alhamdulillah, mungkin inilah hikmah dalam hukum Allah SWT.



Seorang suami sangat menginginkan seorang isteri yang taat kepada perintahnya. Ini adalah suatu kriteria yang sangat penting dalam kehidupan berumahtangga. Bahkan ketaatan seorang isteri digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadisnya. Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain nescaya aku pasti akan memerintahkan wanita (isteri) untuk sujud kepada suaminya”1



Juga di dalam hadis yang lain, Abu Umamah berkata yang Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih memberikan manfaat kebaikan kepada seorang mukmin setelah ketakwaannya kepada Allah SWT daripada isteri yang solehah, jika ia memerintahnya, ia mentaatinya, jika ia memandangnya, ia menyenangkannya, jika ia menggilirnya, ia memuaskannya, dan jika ia meninggalkannya, ia akan memelihara dirinya dan harta suaminya” 2 Dan dari isteri Said bin Musayyab, beliau pernah berkata,”Tidaklah kami berbicara kepada suami kami kecuali seperti kalian berbicara kepada pemimpin kalian, semoga Allah memeliharamu (suamiku) dan semoga Allah memaafkanmu”3



Bagaimana seorang yang tidak mentaati perintah dan suruhan Allah SWT akan sentiasa mematuhi perintah dan suruhan seorang manusia bergelar suami?. Anda akan mendapati mereka selalu merungut, membantah, malas dalam melaksanakan segala yang anda perintahkan kecuali yang disukai oleh nafsu mereka sendiri.



Bagi suami pula, perlakuan baik dan lemah lembut terhadap seorang isteri merupakan suatu kriteria yang sangat penting dalam sebuah rumah tangga. Biarpun seorang lelaki itu kacak, kaya, bijak, dan apa sekalipun kelebihan yang ada padanya, seandainya dia melayan isteri dengan kekasaran dan tidak berbuat baik, apakah nilainya di mata seorang wanita.



Dalam perkara ini kita boleh lihat akan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh abu Hurairah bahawa Rasulullah SAW pernah berkata:

Janganlah seorang mukmin memarahi isterinya, kerana jika ia membenci salah satu perilaku isterinya, dia pasti menyukai perilaku lain dari isterinya itu.”4



Hadis lain adalah, Abu Hurairah Ra juga berkata yang Rasulullah SAW pernah bersabda, “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada isteri-isterinya.”5 Dalam suatu hadis lain, Aisyah ra berkata yang Rasulullah SAW pernah bersabda,

Sesungguhnya diatara mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut perilakunya kepada keluarganya.”



Kerana itulah kita biasa melihat seorang lelaki yang tak hensem, gemuk dan sebagainya, kadang-kadang mendapat awek yang cantik. Dan tak kurang juga pasangan yang pasangan perempuannya pula yang tidak cantik berganding dengan lelaki yang kacak. Bahkan setelah mendapat seorang cahaya mata nanti, akan bertambahlah kepentingan persediaan agama di dalam mendasari kehidupan sebuah rumah tangga.



Kalau ada yang merasakan di dalam hidupnya ada yang lebih penting daripada agama, maka orang itu adalah orang gila. Mana mungkin ada sesuatu yang lebih penting daripada tujuan kita diciptakan di dunia ini?. Kan kita diciptakan di dunia untuk diuji komitmen kita dalam mengikuti ajaran agama?.

(Allah) yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk:2)

1Hadis riwayat Tirmidzi dan di sahihkan oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban

2Hadis riwayat Ibn Majah

3Hadis riwayat Abu nu'aim

4Hadis riwayat Muslim

5Hadis riwayat tirmidzi dan ibnu hibban.

[+/-] Selengkapnya...

persiapan kewangan - menjaga diri dari meminta-minta

Menjaga diri dari meminta-minta


Biarpun kita dalam keadaan yang susah, sikap tidak meminta-minta adalah suatu sikap yang sangat tinggi nilainya. Seorang yang mempunyai sikap mandiri akan sangat dihormati. Rasulullah S.A.W bersabda, “Tidak seorang pun makan makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari hasil kerja tangannya (sendiri).” (Hadis riwayat Bukhari)


Mahukah kita bertemu dengan Allah nanti dalam keadaan yang tiada sepotong daging pun di muka kita akibat selalu meminta-minta sedangkan Rasulullah SAW pernah bersabda, “Selalu meminta-minta itu dilakukan oleh seorang diantara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong daging.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)


Setelah mendirikan rumah tangga, seorang pemuda harus sentiasa berusaha sedaya upaya untuk memenuhi keperluan hidup diri dan isteri dengan usaha sendiri. Seorang isteri bukan lagi tanggungan kedua ibu bapanya. Seluruh keperluan ekonominya jatuh pada tanggungjawab suami. Seandainya kedua ibu bapa masih mahu memberikan sedikit sedekah, itu adalah kebajikan yang mereka lakukan, bukanlah suatu kewajipan.



Walaupun begitu, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sedekah tidak halal bagi orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna.”1 Dalam hadith yang lain, Rasulullah S.A.W bersabda, “Orang yang meminta-minta padahal tidak begitu menghajatkan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api.”2


Seorang suami yang tidak mampu menguruskan perbelanjaan rumah tangganya dengan usaha sendiri akan membuahkan permasalahan di kemudian hari. Kurangnya usaha untuk memikul tanggungjawab nafkah isteri dan perbelanjaan diri sendiri menampakkan kurangnya kesiapan ataupun kesanggupan sang suami dalam memikul beban rumah tangga. Perkara ini mempunyai kesan terhadap harga diri suami, kepercayaan isteri pada suami, pandangan kedua orang tua pada rumah tangga yang dibina, dan pandangan masyarakat kepada kita.


Bukanlah saya ingin mengatakan bahawa tidak boleh menerima bantuan kewangan dari mereka, namun sikap sanggup menerima tanggungjawab sebagai suami harus tertanam di dalam diri sehingga sekurang-kurangnya tidak bergantung penuh pada kedua ibu bapa dalam soal ekonomi. Perlu diusahakan juga untuk mencari sumber kewangan alternatif.


Saya sendiri mencari sumber kewangan alternatif dengan berniaga secara kecil-kecilan di kampus. Saya pernah menjual baju t-shirt, madu, burger, buku dan air kotak.


1 Hadis riwayat Tirmidzi

2 Hadis riwayat Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya

[+/-] Selengkapnya...

Kewangan seorang pelajar

Sumber kewangan bagi seorang pelajar biasanya adalah biasiswa atau pinjaman yang diterimanya. Bagi sesetengah peminjam atau pemberi biasiswa tidak membenarkan pelajar yang ditajanya untuk mendirikan rumah tangga. Seandainya diberi keizinan untuk mendirikan rumah tangga sekalipun, biasanya biasiswa atau pinjaman tersebut hanya cukup untuk keperluan seorang pelajar sahaja, tidak memungkinkan untuk membiayai sebuah keluarga dengan cukup.



Disinilah letaknya peranan seorang bakal suami untuk menjadi kreatif dalam menjana kewangan bagi keluarganya. Ada seorang kawan saya yang menjalankan perrniagaan menjual burger dari bilik ke bilik untuk menjana kewangan bagi menampung nafkah yang seharusnya diberikan kepada isterinya.Seorang lagi menjual topup dan air kotak. Macam-macam yang boleh dilakukan daripada meminjam kepada bank sehinggalah dibiaya oleh keluarganya sendiri.




Mari kita ambil contoh dari apa yang berlaku di zaman nabi S.A.W. Setelah mendirikan rumah tangga dengan puteri Rasulullah S.A.W, fatimah RA, Saidina Ali karamallahuwajhah tidak mempunyai rumah untuk didiami. Maka mereka pun mengadukan masaalah mereka kepada Rasulullah S.A.W. Setelah mendengar aduan mereka Rasulullah tetap tidak memberikan rumah kepada mereka. Mendengar permasaalahan ini seorang yang kaya datang dan menawarkan kepada mereka sebuah rumah untuk mereka diami. Akan tetapi apabila Rasulullah S.A.W mendengar perkara itu, baginda melarang mereka dari menerima pemberian hartawan tadi kecuali dengan jual beli.

Cuba anda renungi sebentar akan beberapa hadis yang menerangkan bahawa di dalam pernikahan itu terdapat rezeki yang di janjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

“Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga)”1


Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah S.A.W bersabda,”Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah SWT, Seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatan dirinya.”2


Rasulullah S.A.W bersabda: Tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah, iaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan orang yang berjihad di jalan Allah.”3


Abu Bakar As-Siddiq berkata: “Taatlah kamu kepada Allah dalam apa yang diperintahkan kepadamu iaitu perkahwinan, maka Allah akan melestarikan janji-Nya kepadamu iaitu kekayaan. Allah telah berfirman; “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunianya (an-Nisa':32)”4


1 Hadis riwayat imam ad-Dailani dalam musnad al-Firdaus

2 Hadis riwayat Thabrani

3 Hadis riwayat Tirmidzi, an-Nasa'i, Al-Hakim dan Daruquthni. - shahih

4 Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, Dari ad-Dur Al-Mantsur

[+/-] Selengkapnya...

Perbelanjaan selepas berkahwin

Keperluan


  1. Rumah sewa


Cukuplah bagi mereka yang baru mendirikan rumah-tangga untuk menyewa rumah yang sederhana. Sederhana yang saya maksudkan ini adalah biarpun rumahnya sangat kecil, akan tetapi cukup untuk diduduki oleh kita suami isteri. Yang lebih penting adalah suasana di sekeliling rumah yang ingin kita sewa itu. Pilihlah rumah yang selamat untuk kita tinggalkan isteri kita bersendirian. Janganlah demi mencari rumah yang murah kita abaikan soal keselamatan isteri dan harta di dalam rumah. Pilihlah jiran tetangga yang baik, kerana Rasulullah s.a.w pernah bersabda: ...

maka pilihlah rumah sewa dengan sebaiknya. Seandainya kita perlu mengambil masa melalui awal pernikahan tanpa rumah pun tidak mengapa. Itu lebih baik dari rumah yang tidak aman daripada bahaya.



Biasanya harga rumah sewa ini akan sangat bergantung kepada kedudukan rumah itu. Di kawasan KL, rumah sewa yang kecil pun mungkin mencecah sehingga RM400-RM600. Di kawasan luar bandar harganya mungkin lebih kurang RM100-RM200. Di kawasan yang saya tinggal kini, RM200 sudah cukup untuk mendapat rumah sewa 3 bilik.


Alternatif kepada menyewa adalah tinggal di rumah ibu bapa atau mertua.


  1. Makanan


Makanan sehari mungkin mencapai RM10 bagi mereka yang tidak memasak di rumah. Itupun kalau cuma minum air suam dan makan nasi bungkus dua kali sehari untuk dua orang. Kalau makanan biasa kadangkala mencapai RM20 sehari. Jadi masaklah di rumah. Belanjanya kan berkurang sehingga lebih kurang RM3-RM4 sehari. Beras 10 kilo dapat bertahan dalam 2 bulan untuk 2 orang. Bermakna cuma 30 sen sehari. Seketul daging 1 kilo boleh dimakan untuk 6 kali masakan. Bermakna cuma RM2.50 sehari. Kalau ayam seekor boleh dipotong 12, juga untuk 6 kali masakan. Kalau ikan mungkin lebih mahal sedikit. Kalau telur 4 biji sehari, anda cuma berbelanja RM1 sehari untuk lauk. Bakinya untuk sayur-sayuran. Kobis setengah biji boleh dimakan untuk 3-4 hari. Bermakna cuma 30sen sehari.



Makan di luar =

RM10 x 30 hari = RM300


Masak sendiri di rumah =

Nasi = RM10 (5kg) untuk 30 hari

Seminggu Ayam = 2.5 x 7 = RM 17.5 Ayam sekilo RM 5.50

Seminggu Daging = 2.5 x 7 = RM 17.5 Daging sekilo RM 8.00

Seminggu Telur = 1 x 7 = RM 7 Telur 30 biji RM 5.90

Seminggu Ikan =2.5 x 7 = RM 17.5 Ikan sekilo RM 8.00 – ikan kembung

Sayur = RM 0.40 x 30 = RM12 Kobis sebiji RM 3.00


keseluruhan = RM10 + RM17.50 + RM17.5 + RM7 + RM17.5 + RM12.00 = RM 81.50


Alternatif kepada perbelanjaan makanan ini juga adalah tinggal bersama-sama ibubapa atau mertua.


  1. Handphone


Katakan anda melanggani Celcom Minutes, RM 50 sebulan x dua orang = RM100


  1. Perbelanjaan lain-lain


Katakanlah anda meletakkan perbelanjaan barangan keperluan lain-lain seperti sabun, syampu, sos, kicap, gula teh, tepung, makanan ringan dan sebagainya dalam RM 50 sebulan.


Keseluruhan perbelanjaan sebulan = RM 200+RM81.50+RM100+RM50= RM 431.50

Kalau tinggal di rumah ibu bapa atau mertua = RM100+RM50 = RM150


Itu pun masih boleh anda kurangkan kalau anda mahu.


  1. Perjalanan


Belanja perjalanan adalah perbelanjaan yang paling tinggi berbanding semua perbelanjaan tadi seandainya anda masih belum memiliki sebarang kenderaan. Harga motorsikal second hand yang masih baik keadaannya adalah dalam lingkungan RM2500 tunai. Harga sebuah kereta second hand yang masih baik keadaannya pula adalah dalam RM5000-RM10000 tunai.


Kalau anda ambil loan untuk motorsikal baru harganya dalam RM200-RM250 sebulan selama 2 tahun dengan RM2000-RM2500 sebagai downpayment.


Kalau anda mengambil loan kancil second hand yang bernilai RM15000, sebulan anda perlu membayar RM300-RM350 selama 5-6 tahun.


Harga minyak pula bergantung kepada penggunaan anda. Biasanya kalau cuma menggunakan motor lagenda dan perjalanan harian tidak sampai 30 minit, seminggu perbelanjaan minyak anda adalah lebih kurang RM10-RM15. Bermakna RM40-RM50 sebulan.


Kalau anda menaiki bas atau LRT pula, saya anggarkan perbelanjaan harian pergi balik anda adalah RM5 untuk dua orang suami isteri. Maka perbelanjaan bulanan anda adalah sekitar RM150.


Perbelanjaan perjalanan ini sangat sukar untuk diceritakan disebabkan keperluan bergerak setiap orang daripada kita yang cukup berbeza. Sesetengahnya tidak perlu banyak bergerak, sesetengah yang lain sangat memerlukan perbelanjaan perjalanan ini.

[+/-] Selengkapnya...

Perbelanjaan biasa di dalam proses perkahwinan.


  1. Waktu bertunang

    1. Hantaran

Biasanya hantaran sewaktu bertunang adalah sebentuk cincin tunang dan pertukaran hadiah. Sewaktu saya bertunang dahulu hantaran kami adalah kain untuk dibuat baju, tudung dan kain, sepasang kasut, sebentuk cincin, kek, makanan yang dihias-hias, dan al-Quran. Cincin berharga lebih kurang RM150, sementara hadiah-hadiah lain mungkin lebih kurang RM20-RM50 setiap satu. Pertunangan yang sederhana biasanya tidak menelan belanja lebih dari RM500. Termasuk juga dalam perbelanjaan ini adalah perjalanan pergi balik ke rumah pihak perempuan kalau perjalanannya jauh.



    1. Belanja kenduri

Sewaktu bertunang biasanya pihak tuan rumah akan mengadakan sedikit kenduri. Kenduri ini biasanya tidak melibatkan lebih dari 50 orang tetamu termasuk rombongan meminang. Andaikan makanan seorang berharga RM5, pihak perempuan perlu berbelanja lebih kurang RM250 bagi kenduri kecil ini.


  1. Waktu Walimah

    1. Hantaran

Hantaran sewaktu majlis pernikahan biasanya tidak menentu. Kadangkala ia boleh mencapai puluhan ribu. Biasanya bagi masyarakat Melayu, mereka meletakkan hantaran dalam lebih kurang 2 ribu sehingga 7 ribu. Bagaimanapun hantaran dalam bentuk duit ini cuma merupakan adat kebiasaan yang tidak disyariatkan oleh islam. Hantaran ini akan diambil oleh keluarga pihak perempuan.


Hantaran saya cuma berbentuk hadiah sahaja.


    1. Mas kahwin

Mas kahwin juga tidak menentu. Kadangkala ia mencapai ribuan ringgit dan ada ketikanya ia cuma puluhan ringgit sahaja.


Mas kahwin saya sebanyak RM1500.

    1. Belanja Kenduri

Belanja kenduri adalah perbelanjaan yang paling utama. Ia sangat tergantung kepada bilangan jemputan, cara kenduri dilaksanakan, dan tempat kenduri diadakan. Bagi kenduri gotong royong yang jemputannya lebih kurang 500 orang, belanjanya adalah lebih kurang RM2500 hingga ke RM3500. Lebih kurang RM3-RM5 satu kepala untuk makanan dan selebihnya adalah belanja untuk khemah, PA system dan sebagainya. Perbelanjaan ini juga berbeza mengikut kawasan disebabkan berbezanya cara bergotong-royong dan menu hidangan.


Perbelanjaan keseluruhan untuk seluruh proses untuk melangsungkan perkahwinan sangat tergantung pada situasi masing-masing. Saya alhamdulillah dibantu oleh keluarga kedua-dua belah pihak. Perbelanjaan minimum adalah sekitar RM2000. Maksimum mungkin mencecah berpuluh-puluh ribu.


Alternatif bagi perbelanjaan perkahwinan ini adalah tawaran dari Jabatan Agama Islam negeri untuk dibantu belanja kendurinya.

[+/-] Selengkapnya...

persediaan kewangan...

Mari kita lihat sejenak persediaan dari segi kewangan nih. Biasanya inilah penghalang utama kepada para pelajar mahupun yang sudah bekerja dalam melangkahkan kaki ke gerbang perkahwinan.



Sumber kewangan bagi seorang pelajar biasanya adalah biasiswa atau pinjaman yang diterimanya. Bagi sesetengah peminjam atau pemberi biasiswa tidak membenarkan pelajar yang ditajanya untuk mendirikan rumah tangga. Seandainya diberi keizinan untuk mendirikan rumah tangga sekalipun, biasanya biasiswa atau pinjaman tersebut hanya cukup untuk keperluan seorang pelajar sahaja, tidak memungkinkan untuk membiayai sebuah keluarga dengan cukup.




Di sinilah letaknya peranan seorang bakal suami untuk menjadi kreatif dalam menjana kewangan bagi keluarganya. Ada seorang kawan saya yang menjalankan perniagaan menjual top up, kerepek, dadih dan sebagainya bagi menjana kewangan bagi menampung nafkah yang seharusnya diberikan kepada isterinya. Saya sendiri pun menjalankan beberapa perniagaan kecil-kecilan untuk mencari sumber kewangan bagi menampung kehidupan kami sekeluarga. Macam-macam yang boleh dilakukan daripada meminjam kepada bank sehinggalah dibiayai oleh keluarganya sendiri. Seorang ulama' terkenal di Amerika telah mencadangkan konsep zawaj friend1 (girlfriend isteri) di mana keluarga menikahkan anak-anak mereka sementara mereka masih belajar akan tetapi kewangan mereka tetap ditanggung oleh keluarga.



Yang menyedihkan adalah ibubapa kini lebih sanggup anak-anak mereka melakukan maksiat daripada mengahwinkan mereka berdua. Mereka meletakkan mindset bahwa untuk berkahwin seorang itu perlu ada pekerjaan tetap, kereta, rumah dan sebagainya. Selagi belum ada semua itu seorang itu tidak layak untuk berkahwin. Sedangkan mereka membuka seluas-luasnya ruang untuk anak-anak mereka melakukan maksiat.



Mereka lebih rela anak mereka merendam perasaan syahwat dengan melakukan onani atau masturbasi, menonton filem-filem lucah, melayari laman lucah di internet, bercouple, berpegangan tangan, bergaul secara bebas, bahkan sehingga melakukan zina sekalipun. Na'uzubillah min zalik. Alhamdulillah saya dikurniakan keluarga yang memahami.



Cuma saya menasihatkan kepada mereka yang mempunyai keluarga yang memberi sokongan agar tidak terlalu bergantung kepada keluarga kerana ia mempunyai kesan yang mendalam terhadap pandangan mereka kepada kita. Selain itu kita sebagai sebuah keluarga haruslah berdiri sendiri dan tidak bergantung harap kepada orang lain terlalu banyak. Mungkin pada permulaan hidup kita akan menghadapi pelbagai kesukaran, akan tetapi belajarlah untuk tidak meminta-minta. Cukuplah sekadar apa yang ada.



Bagi mereka yang tidak bernasib baik pula, janganlah pula menyalahkan ibu bapa kerana itu sudah bukan tanggungjawab mereka lagi. Mereka tidak melakukan apa-apa kesalahan. Kesalahan itu tertanggung kepada kita, mungkin kita tak cukup berusaha lagi untuk mencari nafkah kehidupan.

1Saya pernah terbaca artikel mengenai zawaj friend sebagai alternatif yang diperkenalkan oleh seorang ulama' di Amerika Syarikat kepada girlfriend. Saya lupa akan nama Ulama' tersebut. Caranya sama sahaja seperti girl friend, kedua-dua pasangan hidup dibiaya oleh keluarga masing-masing, akan tetapi mereka sudah dinikahkan. Sebenarnya bukan hanya ulama' ini sahaja yang mencadangkannya, sudah ada beberapa ulama' sebelumnya yang mencadangkan perkara yang sama. Sesetengah ulama' mencadangkan agar tidak mengadakan hubungan seksual terlebih dahulu seandainya tidak sesuai. Ada yang mencadangkan suami membeyar sedikit harta sebagai nafkah sekadar kemampuan. Kan perbuatan boyfriend membelanjai girlfriendnya suatu yang biasa. Mereka berdua bebas keluar berdating, berpegangan tangan, bersembang, bercinta dan sebagainya. Zawaj friend juga dikenali sebagai nikah gantung di sesetengah tempat.

[+/-] Selengkapnya...

kepentingan persediaan sebelum pernikahan

Hmm... kenapa kena sibuk-sibuk pasal bersedia nih?, apa sebenarnya yang perlu dipersiapkan sebelum berkahwin?.


Bayangkan, anda meminta izin daripada ayah anda untuk berkahwin, kemudian, ayah anda bertanya persediaan yang telah anda lakukan untuk berkahwin lalu anda jawab tidak tahu.... apakah ada peluang untuk anda dapat keizinan daripada ayah anda untuk berkahwin?.



Persediaan adalah suatu yang amat penting dalam perkahwinan, tanpanya perkahwinan akan menjadi goyah dan rapuh.


Apatah lagi perkahwinan yang dilakukan semasa masih belajar. Suatu yang melawan arus dan jarang dilakukan malah sangat dikritik oleh masyarakat kerana ganjilnya perkara ini. Bukanlah saya ingin mengatakan yang perkahwinan sewaktu belajar ini terlalu sukar tetapi disebabkan terlalu sedikit contoh untuk kita mengambil pelajaran maka agak sukar kadangkala bagi kita untuk mendapat nasihat atau contoh ikutan.


Cuba kita ambil contoh, seorang yang belajar bersendirian berdepan dengan buku-buku sahaja berbanding dengan seorang yang belajar bersama kawan-kawan dan seorang guru, yang mana akan menghadapi lebih banyak kesulitan?. Sudah tentulah yang belajar bersendirian. Lantas, masa yang diambil oleh orang yang belajar bersendirian itu tentulah lebih lama lantaran lebih banyak cubaan dan kesalahan yang dilakukan oleh nya. Maka bagi mereka ini lebih banyak persediaan yang diperlukan dalam menghadapi peperiksaan yang bakal dihadapi.


Begitu juga dengan mereka yang ingin menghadapi perkahwinan ketika belajar ini, kurangnya orang di sekeliling yang boleh kita jadikan rujukan, menjadikan kita perlu lebih banyak bersedia sebelum menghadapi hari bersejarah tersebut.


Persediaan yang dimaksudkan adalah persediaan daripada segala segi, agama, akhlak, toleransi, management, mental, fizikal, kewangan, hubungan dan sebagainya.


Bukanlah tujuan saya menulis buku ini untuk menakutkan pembaca daripada berkahwin, saya pun bukanlah sudah bersedia secara sempurna sewaktu melangkah ke jenjang perkahwinan. Akan tetapi itu tak menghalang kita untuk meneliti apakah persediaan yang dinamakan sempurna, mudah-mudahan kalau tak dapat untuk mencapai kesempurnaan pun kita akan dapat memenuhi sebahagian yang paling utama.


Sewaktu saya nak kahwin dulu pun ayah saya tanyakan kepada saya, apakah persediaan yang saya sudah lakukan?, apakah saya sudah mampu berkahwin?, dan beberapa lagi soalan yang seumpamanya. Saya jawab apa yang telah saya siapkan, apa yang mungkin perlu saya usahakan lagi dan saya menyatakan bahawa pada pandangan saya saya sudah bersedia untuk kahwin. Ayah saya tersenyum dan bertanyakan lagi beberapa perkara yang saya terlepas pandang atau mungkin tidak bersedia. Akhirnya ayah saya tambah, semua orang takkan dapat bersedia secara sempurna untuk berkahwin, kalau nak tunggu sempurna, tak kahwin lah kita sampai tua. Ayah saya tambah lagi, dia pun tidak bersedia secara sempurna sewaktu perkahwinannya dahulu.


Mari kita renung kembali, kalau nak tunggu sampai dah bersedia secara sempurna, tak kahwin-kahwinlah kita sampai tua.... itu pendapat kami, bagaimana pendapat anda pula?


[+/-] Selengkapnya...

Pentingnya kahwin muda disebabkan kelemahan diri...

Alah, kalau datang godaan sekuat mana pun, andai benteng pertahanan diri kuat dan kukuh, tak akan berlaku apa-apa. Mari kita renung sebentar, dari perspektif daya tahan diri, apakah pernikahan itu suatu keperluan diri?

Kalau sebelum ini kita membicarakan tentang serangan dan suasana yang buruk dalam persekitaran kita, sekarang kita akan melihat pula kepada aspek dalaman diri kita sendiri. Tak dinafikan, andaikata seseorang itu kukuh dan kuat dalam menghadapi ujian dan cubaan, sudah pastilah sekuat mana pun cubaan yang datang dapat ditangkisnya dengan baik dan tepat.


Malangnya, tak ramai yang betul-betul mempunyai kekuatan seperti itu, kekuatan yang menyababkan dirinya tetap tegar dalam arus kuat yang mengajak manusia meninggalkan kebaikan dan melakukan kemaksiatan. Kekuatan yang hanya dapat dibina daripada latihan dan pengarahan yang jelas daripada pihak yang menjalankan tugas mendidik yaitu ibubapa.


Diceritakan di dalam cerita mengenai seorang pemuda pada zaman pemerintahan Saidina Umar RA, seorang pemuda kacak yang selalu ke masjid dituduh memasuki sebuah rumah yang dihuni seorang wanita muda yang amat cantik lalu menggoda wanita tersebut untuk melakukan zina. Apabila diadili oleh saidina Umar, rupa-rupanya wanita tersebut yang tertarik terhadap pemuda itu lalu berpakat dengan seorang nenek untuk menggoda lelaki tersebut. Nenek itu meminta pertolongan dari lelaki tadi untuk memerahkan susu domba yang dimilikinya. Lelaki itu bersetuju. Setelah ikut masuk ke rumah nenek tersebut, nenek itu menyuruh duduk sebentar sementara dia pergi mengambil domba itu. Lalu masuklah wanita muda tadi lantas terus menggoda lelaki itu untuk melakukan zina.


Lelaki itu meminggirkan diri dan menolak sekeras-kerasnya. Setelah meyakini bahawa keinginannya tidak akan terpenuhi, maka wanita itu menjerit meminta tolong dari orang ramai dengan menuduh lelaki itu yang menceroboh rumahnya dan menggodanya. Setelah mendengarkan alasan lelaki itu, Umar terus memanggil semua wanita tua di sekitar itu sehinggalah bertemu dengan wanita yang dimaksudkan tadi. Disebabkan ketakutan berhadapan dengan saidina Umar, nenek itu pun mengaku akan perbuatannya.


Nabi Yusuf adalah seorang yang sangat kacak.. Suatu hari dia dipanggil oleh isteri tuannya, Zulaikha, masuk ke satu bilik. Di dalam bilik itu tiada seorang pun kecuali mereka berdua. Terjadilah kisah diantara mereka berdua seperti yang diceritakan oleh Allah SWT dalam ayat berikut,


Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (Yusuf:23)


Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf:24)


Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?"(Yusuf:25)


Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.”(Yusuf:26)


Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf:27)


Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.”(Yusuf:28)


Allah SWT memberi tahu kita bahawa di dalam diri Nabi Yusuf AS sebenarnya telah timbul keinginan untuk melakukan perbuatan zina dengan Zulaikha. Akan tetapi keimanannya kepada Allah SWT telah menyelamatkan diri Nabi yusuf dari perbuatan yang keji lagi hina. Bertapa kuat dan kukuhnya iman Nabi Yusuf tatkala digoda oleh Zulaikha, seorang wanita bangsawan yang sangat cantik.


Seandainya kita berada di dalam posisi sang pemuda di zaman Umar itu ataupun di dalam posisi Nabi Yusuf AS apakah kita mampu berbuat seperti yang dilakukannya?. Dan apakah situasi tersebut mustahil untuk berlaku pada zaman kita?.Terlalu ramai wanita murahan yang tak malu-malu mengorat si jejaka, bahkan bukan sedikit di kalangan mahasiswa yang berzina. Semua itu terlalu mudah untuk berlaku, sedangkan pendinding diri kita masih lagi terlalu lemah. Lantas apakah lagi alasan saya untuk mengatakan berkahwin itu belum menjadi keperluan saya?



[+/-] Selengkapnya...

Pentingnya kahwin muda disebabkan suasana masyarakat...

Mari kita renung sejenak suasana masyarakat dan sarana-sarana yang akan membawa kita kepada kerosakan seandainya kita terus lalai dan leka. Suasana inilah yang menjadikan pernikahan lebih terasa kepentingannya.

Selamatkan kami dari godaan demi godaan ini…


Kita sedang berada dalam dunia yang sedang berubah dan akan sentiasa berubah dari masa ke semasa. Teringat saya pada suatu pepatah “The only constant thing in the world is change”. Perkara yang paling mempengaruhi kurun ini adalah perubahan dalam kemajuan teknologi yang dihadapi manusia. Selari dengan kemajuan tersebut, datang bersamanya kerosakan yang berlaku disebabkan kemajuan ini tidak dipandu oleh keimanan terhadap Allah ta’ala



Umat islam sedang diserang oleh berbagai-bagai serangan pemikiran yang merosakkan dan mengikis keimanan mereka, sedikit-demi sedikit. Sehingga suatu perkara yang sangat luar biasa bagi masyarakat jika terdapat seorang yang dapat menahan diri dari melakukan maksiat dan patuh terhadap seluruh suruhan dan arahan Allah SWT. Ajaibnya andai ada yang masih dapat menahan diri dari menonton televisyen, melihat laman porno, membaca majalah-majalah yang berunsur lucah dan menghindari dari membuang masa bermain permainan video. Apatahlagi kalau ada yang menjadikan amalan rutinya bersembahyang lima waktu sehari semalam di masjid, merutinkan membaca al-quran, solat tahajjud, solat dhuha, istighfar mungkin mereka ini mungkin dianggap makhluk asing yang datang dari entah mana... Sedangkan semua itu merupakan perkara biasa yang patut dan harus bagi setiap mukmin.


Saudara-saudari seagama, sedikit dari kita yang sedar mengenai serangan demi serangan ini, sedikit lagi daripada yang sedar ini berusaha menghindarkan diri, dari yang menghindarkan diri ini sedikit lagi yang berusaha membantu dan mengajak orang lain agar turut sama menghindarkan diri...


Mari kita perhatikan sejenak bentuk-bentuk serangan pemikiran yang merosak keimanan dan agam kita kini:


  1. Internet


Zaman siber tak dapat lari daripada internet, segalanya yang berkaitan dengan internet adalah kemajuan dan mengikut arus perdana. Internet menjadi tempat segalanya, daripada perniagaan, sehinggalah kepada penipuan dan penyebaran fitnah. Internet boleh membawa manusia dari satu negara ke negara yang lain dengan sekelip mata. Akan tetapi, seperti biasa, suatu alat yang hebat boleh membawa kepada kebaikan dan juga keburukan, bergantung kepada panggunanya. Kereta boleh menjadi membawa seorang pekerja ke destinasi yang dituju lantas meningkatkan produktiviti dan kereta juga boleh membawa seorang perompak lari dari sekatan jalan raya...


Penyalahgunaan internet termasuklah suatu yang sangat berkaitan dengan tajuk buku ini iaitu laman web pornografi. Begitu mudah bagi sesiapapun di antara untuk mendapat sumber bahan lucah yang akan menjadi penyakit yang menular dalam jiwa seseorang itu. Suatu maksiat hanya akan menambahkan keinginan si pelaku untuk terus melaksanakan maksiat dan mengurangkan daya tahan diri si pelaku. Pendek kata suatu maksiat itu boleh diibaratkan macam dadah yang akan menyebabkan pelakunya ketagih dan melemahkan sistem pertahanan badan. Jadi cara untuk tidak melakukan maksiat adalah menjauhi maksiat sama sekali...


Gambar lucah yang dilihat akan terpahat didalam otak sekaligus menyebabkan daya tumpuannya kepada benda-benda lain berkurang. Seterusnya ia akan menjadi tumpuan utama seseorang itu sehingga daya intelektualnya akan bertambah lemah, ingatannya akan menjadi buruk, kesihatannya terganggu akibat tekanan perasaan dan seterusnya mengurangkan rezeki, menjadikannya bertambah bodoh, sentiasa resah dan gelisah, sukar untuk menerima nasihat dan sebagainya.


Malang sekali tak ramai yang menyedari akan hakikat perkara ini, ramai yang mengambil mudah akan maksiat yang dilakukannya. Sedikit sekali yang sedar bahawa setiap perbuatan, samada kecil atau besar, berupa kebaikan atau keburukan akan memberi kesan dalam seluruh kehidupannya akan datang, baik menambahkan kebaikan mahupun keburukan....


  1. Movie (televisyen)


Movie adalah suatu sarana yang cukup efektif dalam merosakkan pegangan agama umat islam. Daripada movie ini lah mengajarkan kepada seorang anak remaja apa erti cinta, apa erti berasmara, memenuhi nafsu serakah, hidup mementingkan diri, cara melakukan jenayah, cara menipu, dan segala macam ajaran-ajaran yang merosakkan pegangan dan fahaman yang telah ditanam oleh kedua ibubapa mereka.


Tatkala ibu menyatakan bahawa menipu itu suatu yang keji dan buruk, siaran televisyen menunjukkan bahawa hero filem pun menipu dan berdusta. Ketika ayah mengajarkan pelajaran itu paling utama cerita hindustan menunjukkan bahawa berkorbanlah apa sahaja demi cinta. Saat guru menceritakan bahawa tindakan kasar itu tidak menyelesaikan masaalah keluarlah rancangan-rancangan yang menunjukkan hero adalah mereka yang paling kuat dalam berlawan. Dan begitulah seterusnya...


Sehinggalah masyarakat menjadi tertipu antara ajaran secara teori (lisan dan tulisan) dan bagaimana sebenarnya hendak mengamalkan apa yang diajarkan kepadanya kerana apa yang mereka lihat adalah praktikal yang terpampang di kaca mata televisyen.


Bahkan yang lebih dahsyat adalah apabila para remaja khususnya dan masyarakat amnya terdedah kepada VCD lucah yang bersepah di mana-mana. Seorang kawan saya menceritakan bahawa dia terdedah kepada VCD lucah sejak dari tingkatan 1 lagi, sebahagian yang lain mencelah, alah itukan perkara biasa...


Movie mengajarkan bahawa inilah hidup yang sebenarnya. Kehidupan yang penuh ketidak adilan, maka mengapa kita perlu menjadi skema dan sentiasa menuntut keadilan?, kehidupan yang berasaskan semua mencari dan cuma sedaya upaya memenuhi hawa nafsu sendiri, maka mengapa kita perlu mengekang hawa nafsu kita?, kehidupan yang pendek kata seolah tiada akhirat yang menanti sang pelaku dosa...


Lantaran pengaruh televisyen dan movie inilah kita seolah tidak merasakan apa-apa yang pelik dan tiada perasaan tidak suka timbul walaupun orang ramai melakukan maksiat di hadapan mata kita semua. Dengan satu alasan sahaja “ alaa biasa lah tu ”, kita semua terbiasa dengan pemandangan dosa... akibat siapa? Akibat movie dan televisyen...


  1. Kawan-kawan


Belum lagi kita menyentuh mengenai sahabat handai dan rakan taulan yang buruk perangainya. Mereka ini memainkan peranan penting dalam kehidupan kita semua. Di dalam sebuah buku1 ada menceritakan bahawa sahabat sangat berperanan membentuk sikap seseorang. Seorang yang membesar dan hidup dalam suasanan persekitaran yang buruk, tak mungkin akan menjadi seorang yang baik sikapnya. Sabda Rasulullah SAW :

Seorang mukmin itu pada agama kawan nya, maka haruslah bagi seseorang itu melihat kepada siapa dia berkawan”2


Kawan merupakan orang yang memberi impak terus kepada kita. Bayangkan suasana seorang yang sedang belajar di dalam perpustakaan, sekelilingnya orang ramai yang turut sama belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Sekarang bayangkan seorang yang belajar di pasar malam, ketika orang lalu lalang dan suasana yang gamat. Suasana sekeliling amat memainkan peranan dalam kehidupan kita. Dan kawan adalah suasana sekeliling bergerak yang sangat banyak peratus waktu kita dihabiskan denan mereka.


Orang pertama yang kita minta pendapat adalah kawan, orang pertama yang kita minta bantuan adalah kawan, orang pertama yang kita cari dalam berkongsi suka dan duka juga adalah kawan. Tak hairanlah daripada semua orang yang merokok, 40% dari mereka mengakui bahawa mereka mula merokok disebabkan pengaruh kawan.


Apakah sebab utama kita terpengaruh dengan budaya couple?, selain daripada penangan media, kawan adalah sebab paling besar kita merasakan perlu bercouple. Semua kawan kita couple, waktu jumpa member semua cakap pasal awek masing-masing, macam mane nak tackle awek, awek merajuk macam mane nak pujuk sehinggalah awek siapa yang paling cun dan sebagainya.


Mungkin lah ada seorang dua yang dapat bertahan dari godaan kawan-kawan sebegini, tapi sampai bila?. Setiap lelaki dan perempuan adalah magnet, andaikata berdekatan pasti akan menarik antara satu sama lain. Tak hairanlah Allah SWT cakap dalam al-quran:


Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”(al-Isra':32)



  1. Media massa


Media massa seperti surat khabar, majalah siaran berita dan sebagainya adalah suatu sumber ilmu yang tidak kurang pentingnya dalam kehidupan kita. Malang sekali, kadangkala media massa ini turut dipergunakan oleh kaum kuffar untuk melalaikan dan merosakkan anak bangsa. Lihat sahaja lah, berapa banyak bahagian dalam surat khabar yang diperuntukkan untuk mengetahui perkenbangan dalam kehidupan seorang yang bergelar celebrity, “orang yang diraikan”. Suatu ketika dahulu para penghibur, penyanyi, penari, adalah orang yang dipandang hina oleh masyarakat disebabkan tugas mereka yang tidak produktif sebenarnya. Akan tetapi, kini seorang penghibur adalah seorang yang sangat dipandang tinggi oleh masyarakat, bahkan mereka menjadi idola oleh kebanyakan manusia.


  1. Buku


Saya dididik agar mencintai buku, memandang tinggi buku dan menghormati buku, kerana padanyalah sumber banyak ilmu pengetahuan , petunjuk yang ditinggalkan oleh cendikiawan dan pemikir-pemikir. Malangnya, kini, lebih banyak buku yang merosakkan berbanding buku yang memberi manfaat, lebih banyak nuku yang berunsur hiburan, menyebarkan fikiran bahawa cinta, harta, kemewehan, sukan dan sebagainya adalah tujuan hidup yang perlu dikejar dan merupakan kayu ukur kejayaan mahupun kegagalan seseorang itu.


Tak sulit untuk seseorang menemukan bahan bacaan yang berunsur kisah artis, model-model, dunia fesyen, novel cinta, bahkan sehingga buku yang berunsur bacaan lucah pun sangat berleluasa. Bertapa kita semua sangat terdedah kepada bahaya unsur-unsur merosakkan ini di mana-mana. Sangat mudah bagi sesiapa yang ingi mencari sumber kelucahan, sehingga apa yang tinggal menghalang seseorang dari melakukannya adalah keimanan.


  1. Games


Menjadi suatu kegilaan dalam masyarakat sekarang, suatu yang tidak boleh tidak, mesti ada di dalam hidup setiap yang bernama kanak-kanak, bahkan melampaui sehingga orang dewasa pun begitu asyik dalam kegilaan suatu yang bernama permainan komputer, permainan video, PS, PS2, PS3, Xbox dan lain-lain yang sewaktu dengannya.


Suatu media yang mencuri masa, menghabiskan tenaga, mengurangkan daya intelektual, melemahkan ingatan yang paling efektif. Ia juga merupakan suatu sarana yang menjadikan seseorang itu merasakan sudah mencapai sesuatu sedangkan dia tidak mencapai apa-apa kejayaan. Entah berapa juta atau billion telah dibazirkan ummat manusia dalam menumpukan sebahagian kehidupan mereka dengan permainan-permainan ini.


Sesetengah kita mungkin tertanya-tanya apa relevannya meletakkan games sebagai sumber perosak yang menyebabkan saya merasakan perlunya perkahwinan dalam hidup saya. Jawapannya, perkahwinan menjadikan anda lebih bertanggungjawab dan serius dalam kehidupan, lantas seorang yang telah ketagih candu games, nikahlah jalan keluarnya...


Bahkan saya bernikah, bukan untuk mencari kesenangan dan keselesaan, bahkan antara tujuan saya bernikah adalah untuk menjadikan diri lebih produktif dan berguna. Termasuklah menjauhkan diri dari melakukan perkara yang sia-sia dan membuang masa seperti bermain game.


Lantas disebabkan semua perkara inilah, saya menjadi takut, menjadi bimbang apakah saya mampu melalui semua ini dengan baik?. Apakah saya mampu menjadi seorang yang baik dalam keadaan sekeliling yang sentiasa mengajak kepada kemungkaran?.

1 Pedoman Pendidikan anak-anak dalam islam – Dr Abdullah Nasih Ulwan

2 masih mencari

3 masih mencari

[+/-] Selengkapnya...